Dikan Membuktikan Kota Medan Benar-benar 'Keras'
Medan parah, mobil angkutan berhenti seenaknya saja," jelas Dikan, pekerja proyek rigid beton Jalan Sisingamangaraja, Medan, Minggu (14/5).
Pria asal Banyumas, Jawa Tengah ini menjelaskan, tidak teraturnya angkutan kota (angkot) menaikkan dan menurunkan penumpang di seputaran lokasi proyek cukup mengganggu pekerjaan mereka.
Dikan mengaku baru dua minggu bekerja di proyek ini. Sebelumnya ia adalah pekerja pada proyek Lampung dan Pekanbaru.
"Baru kali ini di Medan, ternyata benar yang dibilang orang kalau Medan itu keras. Buktinya sopir angkutan berhenti suka hati saja," sambung pria berusia 50 tahun ini.
Pengerjaan proyek rigid beton sendiri berlangsung dari Simpang Tritura hingga Flyover Amplas, kawasan yang dipenuhi terminal liar dari berbagai angkutan umum menuju kawasan Asahan.
Amatan Tribun, pemberitahuan penyempitan ruas jalan sebenarnya sudah terlihat dari Simpang Marindal. Namun, tak seorang pun petugas Dinas Perhubungan berada di sekitar proyek.
Subardi, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 18 Metropolitan Medan Selatan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) II, sebelumnya menyampaikan harapan para stakeholder bisa bekerja sama.
Kata dia, selain angkutan kota yang banyak menaikkan dan menurunkan penumpang, lapak pedagang kaki lima (PKL), belum beresnya penertiban papan reklame, proyek juga terkendala utilitas pipa gas Perusahaan Gas Negara, pipa air PDAM Tirtanadi, serta kabel dan tiang listrik PLN.
Menurut Subardi yang ditemui di sekitaran proyek, Selasa (9/5) lalu, proyek dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tersebut sudah berjalan 16 persen.











